Kenapa Arsitek?

Dari kecil sampai selesai kuliah, yang namanya arsitek dipikiran gw adalah orang yang merancang bangunan, bisa rumah, gedung bertingkat, atau apapun yang fisiknya terlihat seperti bangunan. Tapi secara linguistik istilah arsitek ini mulai terdengar membaur dengan profesi lain, contohnya, software architect.

Atau dalam banyak tulisan berita, kata arsitek sudah berpadu dengan banyak aktivitas seperti “Jose Mourinho sang arsitek permainan Manchester United”, atau yang scope nya lebih sempit, “Xabi Alonso menjadi arsitek terciptanya gol indah Bayern Munich.”

Sepertinya bukan ketidaksengajaan. Artinya ada pola dan irisan yang membuat suatu aktivitas menjadi disebut ‘arsitektur’.  Sentimen kata ini pun positif, biasanya terasosiasi dengan hasil karya yang indah, terkonsep, tereksekusi dengan baik, dan punya nilai ekonomi tinggi. Kalau ada karya yang buruk atau gagal, baik itu bangunan, software, hardware product, atau hal lain, lebih sering kayaknya kita dengar sebagai ‘bad  design’.

Apakah design itu sama dengan arsitektur? Apakah beda? Entahlah. Dalam software engineering ada istilah design pattern, dimana program yang kita buat bisa mengikuti pola tertentu, contohnya factory pattern, singleton, dll. Tapi kok kayaknya belum dengar yang namanya architecture pattern?

Sekilas dari situ gw punya kesimpulan, architecture involves originality, and it’s personal. Bangunan A dan B dari satu arsitek yang sama mungkin punya kesamaan, software X dan Y dari seorang SW architect mungkin punya design pattern yang sama, tapi pasti masing2 karya nya punya perbedaan yang signifikan, bukan dari tampilan fisik atau antarmuka dengan dunia nyata, tapi in a way the architect solves the problem.

Yang ada di pikiran gw sekarang adalah, bukankah kita semua arsitek? Dan ‘bangunan’ yang dirancang disini adalah yang disebut banyak orang sebagai kebahagiaan, happiness. Bukan kesuksesan dunia seperti gelimang harta, atau pendidikan tinggi, atau tahta. Karena hal-hal kayak gitu udah ada polanya, tinggal diikutin aja bukan?

Dan ketika kita kehilangan originalitas, bukankah kita juga berhenti sebagai arsitek? Architect of our own happiness. The worst part is that you have 100% of control of it, which is also the best part. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *