Dihack lagi, ini pelajaran yang gw ambil

Bukan, ini bukan artikel teknis tentang gimana kita bisa menangkal hack/deface website. Bukan juga membahas sekumpulan hacker lokal yang sebenarnya potensial, tapi entah kenapa mereka memilih jalan lain. Tulisan kali ini tentang mindset.

Blog gw yang baru aja dihack adalah blog lama gw di http://blog.firmanazhari.com. Blog yang jumlah artikelnya ga seberapa tapi bisa punya rank bagus ketika orang cari informasi tentang gw. Tapi setelah dulu gw mulai jarang nulis, gw ga pernah cek blog gw, sampai akhirnya ada temen gw yang kasih tau, “Man kayaknya blog lo dihack simpatisan ISIS.” Wtf.. Ketika gw cek, blog gw udah ga tau tampilannya kayak apa dengan backsound suara-suara Arab, dan ketika gw cek nama gw di google, blog gw ini dapet flag “This site may be hacked”.

Intinya platform yang gw pakai ini sangat banyak dipakai orang, artinya punya nilai ekonomis untuk seseorang buat belajar obrak-abrik platform ini. Saat itu ga terlalu sulit buat mengembalikan website jadi seperti semula, dan gw pun mulai aktif nulis lagi, sampai akhirnya gw kembali sibuk dan lupa menulis. Gw berusaha untuk menghilangkan flag “hacked” tadi, tapi saat itu belum berhasil dan akhirnya gw tergoda untuk membeli domain io (blog ini) karena kayaknya lebih cool buat dimacem-macemin. Pilihan mengupdate platform jadi yang terbaru dan lebih aman pun saat itu gw skip, karena prosesnya panjang secara teknis.

Kemarin saat gw cek lagi, kembali ternyata blog gw itu dihack, kali ini oleh hacker lokal. Tapi kali ini efek kerusakannya lebih parah. Sampai gw menulis ini pun, solusi yang gw terapkan masih temporary, artinya walaupun sekarang terlihat baik-baik aja, dan flag “hacked” pun terakhir gw cek udah ga ada, tapi dalam beberapa kasus, tampilannya akan berubah seperti sedang dihack.

Pelajarannya apa?

I quit too fast. Kalau ada hal yang susah, gw membenarkan pemikiran gw buat mencari cara lebih “pintar” untuk menjadi solusinya. “Pintar” di sini gw kasih tanda kutip, karena sebenarnya itu bukan cara pintar, tapi cara malas. Bukan menekan potensi gw untuk mencoba menyelesaikan permasalahan. Pada akhirnya gw harus kembali untuk mencari solusi sebenarnya dari permasalah tersebut, yang pada kasus ini menjadi lebih parah karena efek kerusakannya lebih besar dibanding kejadian pertama.

Hmm, dan tampaknya bagi gw ini ga cuma berlaku di bidang teknis, engineering, atau research, tapi juga di hampir semua aspek. Banyak orang, termasuk gw, punya tipikal penghindar masalah. Kalau ada masalah mending ilang aja, atau mikirnya, mending jangan sampai ada masalah deh. Tapi kayaknya ini gak akan baik untuk jangka panjang. I dream to master that “get shit done” attitude.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *