Thought on the bus #2

Gw punya tendensi untuk mencoba langsung menyelesaikan masalah tanpa tau secara komprehensif apa masalahnya. And that’s really bad. Mengerti masalah adalah kunci utama dalam suatu aktivitas problem solving itu sendiri.

begitu juga dengan menjawab pertanyaan, gw punya kecenderungan untuk menjawab apa yg ada di kepala gw saat pertama mendengar pertanyaan itu. Terakhir gw dpt pertanyaan dari teman, “Guitalele itu nadanya emang lebih tinggi ya?”. Karena yang ada di kepala gw adalah guitalele punya ruang resonansi lebih kecil, jadi suara yg terdengar cenderung lebih cempreng atau treble, gw langsung jawab blablabla frekuensi blablabla, dan raut wajah temen gw langsung like “nyeeh”. Dan ketika gw main guitalele dan tau kalo maksud pertanyaan td itu adalah tentang tuning guitalele yang lebih tinggi dari gitar biasa, i feel like, “omg so stupid”.

And that’s how I learn. Gak semua pertanyaan mesti dibalas dengan jawaban. Kadang, atau seringnya, pertanyaan mesti dibalas dengan pertanyaan lagi, untuk tau maksud seseorang lebih dalam, dan mengerucutkan jawaban ke sebuah jawaban tertentu, yang kalau pun kita ga tau jawabannya, that’s absolutely fine, yg penting kita tau harus mencari informasi apa untuk next stepnya.

Bus 198. Jurong west – Ayer Rajah.

Mar 1 2017. 09:36

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *