Thought on the bus #4

Stop-loss order.

Konsep ini pertama aku dengar waktu belajar tentang investment sekitar 7 tahun yang lalu. Pada stop-loss order, kita menentukan suatu poin di mana pada poin tersebut kita menjual asset sekuritas kita dengan tujuan tidak menderita kerugian lebih jauh . Sorry kalau ada inakurasi pada definisinya.

Sebagai contoh, kita beli saham di angka 100 rupiah per lembar, ternyata harga tersebut terus turun hingga 80 per lembar. Karena tidak mau rugi terlalu jauh, kita memutuskan untuk stop-loss order pada angka 70 per lembar. Jadi kalau pada beberapa waktu ke depan harganya mencapai 70 atau kurang, sistem akan otomatis menjual saham yg kita punya. Yaa, daripada ruginya makin parah.. Make sense? Banget.

Nah, beberapa minggu yang lalu, aku melihat video tentang stop-loss yang coba diterapkan di bidang lain selain investasi. Lebih spesifiknya, diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Contoh paling mudah alarm bangun pagi.

Seringkali kita pasang snooze mode ketika alarm sudah berbunyi. Pada momen ketika kita pasang snooze, sebenernya kita sudah kalah, we’re already lost.¬†Alarm yang berbunyi pada saat snooze itu lah stop-loss nya. Ketika kita memutuskan untuk bangun saat alarm snooze, kita memutuskan untuk tidak loss lebih besar.

Hal-hal tadi terdengar konkrit, karena uang dan waktu punya besaran yang riil. Bagaimana kalau hal-hal yang tidak konkrit? Seperti passion, cinta, atau cita-cita. Apakah kita bisa memasang stop-loss order?

Ketika kita menginvestasikan waktu kita ke suatu hal, kita tidak pernah tau hal tersebut akan berhasil atau tidak, sebelum kita benar-benar menjalaninya. Dan semakin lama kita menjalani, terkadang indikator keberhasilan juga semakin menjadi abu-abu. Hal ini membuat sulit untuk mengimplementasikan stop-loss order pada hal-hal abstrak tadi. Kapan kita harus berhenti?

Tapi aku rasa itulah tantangannya. Mudah bagi kita untuk menemukan alasan kenapa kita harus berlari. Tapi butuh kebijaksanaan yang luar biasa untuk mengerti lebih dalam kapan kita harus berhenti. Faktor yang kita analisa bukan dinamika pasar, atau fundamental ekonomi, atau besaran eksternal lainnya, selayaknya kita mencoba menganalisa pasar saham, tapi kita dituntut untuk mengerti diri kita sendiri, jauh di dalam pikiran dan hati kita. Untuk tau apa artinya kata¬†‘cukup’. Untuk mengerti bagaimana merelakan sesuatu, let it go, untuk kebaikan diri kita sendiri.

Bus 198. Jurong West – Ayer Rajah. 09:50

March 6 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *