Thought on the bus #5

Google-able.

Untuk para researcher, mungkin terbiasa untuk “bertanya” pada google terlebih dahulu sampai benar-benar stuck sebelum bertanya ke supervisor. Kalau tidak ada di jurnal yang satu, masih ada jurnal2 dan artikel ilmiah lain yang menunggu untuk dibaca lebih dalam. Bagi software engineer tak jauh beda, kita punya google+stackoverflow sebagai solusi kalau kita stuck tentang suatu implementasi program.

Rasanya tidak ada yang tidak bisa dicari di google. Kalau tidak ada, berarti query atau keyword pencariannya saja yang belum tepat. Tapi aku menyadari hal positif tersebut membawa dampak besar pada pola komunikasi kita sebagai manusia.

Kita berhenti bertanya tentang hal-hal kecil pada manusia yang lain. Pada teman kita, orang yang baru dikenal, orang tua kita, pasangan kita, dan orang-orang lain. Alasannya adalah hal-hal yang mau kita tanyakan itu “google-able”. Bisa jadi kita tidak mau terdengar bodoh, bisa jadi kita beranggapan google akan menjawab lebih cepat, bisa jadi alasan-alasan lain yang pada intinya mau mengeliminasi ketidaknyamanan kita dalam berkomunikasi dengan manusia.

Dulu pas kecil, kita bertanya pada orang tua mana sepatu yang bagus untuk dibeli. Sekarang kita tinggal google. Dulu kita bertanya sama sahabat tentang pendapatnya tentang seseorang yang kita sukai. Sekarang kita tinggal google.

Sepertinya Google ditambah dengan ego kita menjadi perpaduan pas yang membuat suatu individu mengacuhkan opini dan rasa dari individu lain. Ilusi mengetahui segalanya muncul akibat mudahnya akses terhadap informasi. Aku rasa aku tak mau tenggelam di ilusi tersebut.

Aku ingin mendengar opini lebih banyak, dan melakukan pencarian di google lebih sedikit.

Bus 198. Jurong West – Ayer Rajah. 09:35

March 8 2017