Why are you playing hero?

Pertanyaan di judul tulisan ini bukan pertanyaan yang gw karang sendiri, atau hal yang gw baca di internet. Ini adalah pertanyaan personal dari teman gw. Oke, mungkin kurang tepat dibilang teman, karena saat itu kami baru bertemu beberapa jam sebelumnya, sebelum dia melontarkan pertanyaan itu.

Why are you playing hero?

Saat itu sekitar tahun 2008 atau 2009, ketika gw lagi mencari rekan dari seni rupa untuk diajak kolaborasi. Gw jatuh cinta dengan style seorang ilustrator, yang kebetulan cocok dengan ide gw saat itu. Setelah melihat karya-karyanya online, gw ajak ketemuan, lumayan nyambung, ngobrol sana-sini, sampai akhirnya dia nanya ke gw alamat blog gw pada malam harinya. Yeah, itu cara pada tahun itu untuk stalking paling efektif. Baca blog orang. Beberapa saat kemudian dia chat gw.

Hey, why are you playing hero?

Gw bingung dengan pertanyaan dia saat itu. Pertama, apa maksud pertanyaannya? Kedua, bagaimana seharusnya gw harus memberikan respon? Gw coba membaca dan memahami kembali tulisan-tulisan di blog gw saat itu. Mencoba menempatkan perspektif orang ketiga saat membaca tulisan gw sendiri.

Setelah gw evaluasi, dia mungkin ga suka orang yang mencoba menunjukkan kemampuannya. Mencoba membanggakan prestasinya. Membagi pengalaman bahagianya. Which at that time, I think it was reasonable. Gw bukan tipe orang yang suka ngeluh di internet, bahkan mengeluh dan menceritakan cerita sedih, in general. Gw mau membagi pengalaman bahagia gw di blog gw. Dan hal-hal yang gw sudah share saat itu bagi dia adalah “playing hero”, which I felt really sad, hearing the terms.

Gw mencoba mengerti apa itu playing hero, dimata seorang “seniman” seperti dia. Dan butuh waktu bertahun-tahun buat gw untuk benar-benar mengerti, dan mencoba menilai apakah nilai-nilai yang tertanam dibenak orang ini cocok untuk gw implementasikan. And I think, in a certain way, he’s kinda right. I was playing hero, and still I am playing hero, and I hate myself for it.

Di bawah sadar, mungkin kita, atau gw, berharap orang memperlakukan kita, berdasarkan hal-hal baik yang kita capai, berdasarkan rejeki baik yang kita dokumentasikan, berdasarkan prestasi yang tertulis di resume kita, berdasarkan quotes atau photo2 bagus yang kita post di media sosial, dll. Ketika kita berekspektasi, dan yang kita rasakan bukan seperti yang kita harapkan, kita mencoba menyalahkan orang lain, atau mencoba “memperbaiki” citra kita di media-media yang ada. Tanpa pernah sadar bahwa, basically we’re just a jerk, never a hero.

If you ever felt like that person, I’m truly sorry. No excuse. It’s just me.

Lantas setelah pertanyaan itu, vibe kami berubah. Spirit buat kolaborasinya pun lama-lama luntur dan akhirnya kami hilang kontak. Terkadang, setiap beberapa bulan sekali gw iseng melihat karya-karyanya di internet, kalau gw sedang gak lupa cara mengaksesnya. They’re still beautiful, bahkan meningkat jauh sejak pertama kali gw jatuh cinta sama karyanya. Gw selalu respek dengan orang yang berprinsip, sebesar apapun simpangannya dengan prinsip yang gw anut. Dan ketika prinsip mereka membuat gw merasa lebih baik, orang ini akan menjadi lebih spesial.

Cheers,

02:03 a.m